Saya tidak ingin mengulang lagi apa yang telah lalu, tetapi sepertinya issue-issue seputar ideologi masih akan menjadi berita hangat kapan n di mana saja.
Pagi hari 25 April 2004 yang lalu, saya masih berada di Jogja – studi lanjut bidang Perdamaian dan Resolusi Konflik (yang gak diselesaikan … heheheheeee) – ketika SMS dari sepupu saya di Ambon memberi kabar kalau rumah kami yang baru dibangun karena rusuh sebelumnya terbakar lagi, malah kampus saya termasuk ribuan judul buku di perpustakaan terbakar juga. Waktu itu bertepatan dengan rusuh Haru Ulang Tahun Republik Maluku Selatan (RMS).
Banyak anak muda di Maluku yang sebenarnya pro maupun kontra dengan ide dan gagasan itu. Sejak persitiwa pagi itu, saya mencoba untuk terus menerus menlacak jejak seperti apa momok yang namanya RMS itu. Banyak tulisan yang pro dan kontra juga, tetapi saya mencoba menemukan beberapa yang ditulis oleh orang luar dan menurut saya bisa menjadi penyeimbang antara yang pro dan kontra tadi. Salah satu buku yang menarik untuk dibahas adalah tulisan Ben van Kam dengan judul Inggrisnya The South Moluccans. Ben van Kam sendiri adalah seorang wartawan Belanda yang mengunjungi Maluku pada tahun 1970-an, tepat setelah peristiwa pembajakan dan penyanderaan kereta api dan peristiwa di konsulat Indonesia Amsterdam yang dilakukan oleh sekelompok anak muda Maluku Selatan.
Saya menilai bahwa buku ini menghadirkan sisi lain dari kronologi proklamasi RMS itu sendiri. Artinya, para tokoh yang selama ini dianggap punya peranan penting ternyata punya motif tersendiri di belakang peranan mereka itu. Mudah-mudahan bisa ditemukan makna dan manfaatnya untuk tetap menghidupi kehidupan sebagai rakyat Indonesia.
Petikan wawancara dengan para tokoh kunci pada waktu itu dimuat dalam buku The South Moluccans halaman 105-114. Saya mencoba untuk mengetengahkan petikan wawancara itu dan kemudian melakukan beberapa kajian terhadap narasinya secara menyeluruh.
Minggu, 23 April 1950
Manusama:
Pada hari Minggu 23 April, kami bertemu di Tulehu (salah satu negeri Muslim yang besar di pesisir Pulau Ambon) dengan sekitar lima Puluh tiga orang, dari jam 11 sampai dengan 4 sore, tetapi kami tidak menghasilkan keputusan. Kami merasa bahwa Badan Pemerintah seharusnya melakukan sesuatu, tetapi tidak dan itu sangat menjengkelkan kami. Pertanyaannya adalah: Apa yang harus dilakukan? Jika Badan Pemerintah menanyakan yang harus dilakukan, kita tidak akan tahu jawabannya. Kata “proklamasi” sendiri belum dipahami.
Kemudian saya berkata, Coute que coute, kita akan membuat pertemuan Badan Pemerintahan. Tetapi karena kita tidak ingin dikejutkan dengan pasukan yang mungkin datang dari luar, maka tentara yang ada menduduki kantor pos dan telegraph untuk menghentikan Badan Pemerintah mengirimkan pesan ke Makassar bahwa mereka sementara disandera.